Dari Isteri Teroris Sampai Om Telolet Om

Ada apa dengan Isteri Teroris ?

​Kemarin, sekitar beberapa hari kebelakang saya sekilas menonton wawancara ekslusif di ‘tv one’, yang menjadi objek wawancaranya adalah istri terduga teroris, dengan menggunakan ‘niqab’ istri terduga teroris tersebut dihujani beberapa pertanyaan, yang secara umum arah pertanyaannya sama, yaitu ‘kenapa dia bisa seperti ini (mau menjadi istri terduga teroris)?’.

Setiap jawaban yang keluar dari mulut wanita tersebut banyak kemiripan dengan cerita pendeknya K.H. Mustofa Bisri-akrab dipanggil Gus Mus-yang berjudul ‘Bidadari itu Dibawa Jibril’, pola perekrutan untuk menjadi istri calon terduga teroris kurang lebih mirip dengan cara ‘Jibril’ membawa ‘Bidadari’ dalam cerita pendeknya Gus Mus tersebut.

Hemat pandangan saya, pada dasarnya perasaan wanita itu kuat-kuat lemah, wanita akan mempunyai perasaan yang sangat kuat terhadap anak-anaknya, tapi disatu sisi perasaan wanita sangat lemah jika dihadapkan pada pilihan.

Jadi, bekali semuda mungkin diri kita dengan pemahaman yang baik, ciri pemahaman yang baik ialah pemahaman yang dibenarkan oleh agama, negara, dan hati kita.

Balada Om Telolet Om

Bangsa kita mah seru ya, momen-momen yang terjadi di negeri ini kebanyakan bisa mengalihkan pandangan dunia, mulai dari aksi bela islam yang berjilid-jilid sampai pada keseruan memburu ‘om telolet om’.

Memang bukan saat-saat ini saja bangsa kita dilirik dunia, sebelum negari ini dinamakan Indonesia berapa negara yang rela jauh-jauh hanya ingin melabuhkan kaki-kaki mereka untuk sekedar merasakan kenikmatan dari kekayaan alam negeri ini.

Presiden pertama Indonesia Bung Karno pernah menjadi presiden paling ‘viral’ di jagat dunia karena kekhasan ‘kopiah hitam’ beliau disamping kiprah politiknya yang bersinar bak ‘mercusuar’.

Tidak heran jika sekarang bangsa kita sering menjadi buah bibir dunia, karena sejarah pun ternyata bercerita tak ubahnya seperti saat ini.

Kesimpulannya, bangsa kita sangat mungkin menjadi perhatian dunia, karenanya mari kita tunjukkan eksistensi bangsa ini dengan informasi-informasi yang mempunyai karakter baik, biar dunia tahu bangsa kita bukan hanya ‘amazing’ tapi juga ‘awesome’. Allāhu ‘Alam

(30/12/16, Fahmi Nür Ibrahim)