Ada Namamu Terselip di Setiap Doaku Yang Terpanjat


Malam yang begitu gelap dan sunyi seolah mampu menidurkan kesibukan yang selama ini kita jumpai, malam yang begitu damai menjadikannya sebuah ketentraman untuk beristirahat dari peliknya kehidupan, malam pula lah yang memanggil para peminta ridho Tuhan untuk terbangun dan memanjatkan doa-doa yang mereka ingin sampaikan.

Begitu pun denganku, aku hanya seorang hamba yang jauh dari kata kesempurnaan, aku memang seorang yang cengeng di hadapanMu, karena aku tahu hanya Engkau Tuhan yang maha kuasa atas takdir hidupku, aku akan selalu berpasrah pada apa yang kau goreskan untukku, dan aku yakin setiap pemberianMu adalah anugerah terbaik untukku.

Dalam doa-doa itu aku sering menyelipkan nama orang yang aku ingin Engkau menjadikannya yang terbaik untukku, menjadikan Dia alasan semangat untuk terus memuji keagunganmu, dan atas namaMu aku berharap kelak nanti aku dipertemukan dengan pertemuan yang terbaik yang Engkau rencanakan. (Read: Karena hati yang terluka kupilih dia)

Aku sadar aku hanya sebatas butiran yang penuh kotor dan berharap besar padaMu, namun janjiMu untuk setiap hambaMu yang akan selalu Kau kasihani membuatku yakin setiap harapan dan doaku akan terjawab tepat waktunya nanti, terima kasih atas nikmat yang selama ini kau berikan untukku.

[Cibeber, 10 Januari 2016]

Kupilihkan Temanku Untuk Bersanding Bersamamu


Aku memang sosok yang bagi banyak orang cukup memikat hati, banyak lawan jenis yang mendekatiku ada yang hanya sekedar berkenalan, ada yang ingin berteman bahkan ada juga yang menginginkan lebih dari sebatas teman, aku harus mampe menjaga hatiku karena salah sedikit aku akan membuat seseorang sakit.

Suatu saat aku menyukai seseorang yang kuanggap pantas untuk kukasihi dengan baik, waktu demi waktu aku semakin dekat dengan dia dan aku merasa ketika aku menyampaikan perasaanku, tidak diragukan lagi aku akan diterima olehnya, aku harus membuat sebuah moment yang tepat untuk semua ini, momen yang akan aku abadikan selamanya kalau takdir memang memihakku.

Aku sering berbagi cerita dengan temanku tentang dia yang selama ini aku kagumi, aku selalu menceritakan dia dengan nama samaran dan bukan nama asli, hingga suatu saat temanku berkunjung kerumahku dia mau berbagi cerita juga denganku tentang seorang wanita yang sudah dari dulu dia kagumi, dia bercerita dengan begitu semangat dan disertai dengan cerita-cerita yang membuatku merasa empati, perjuangan temanku untuk perempuan yang ia kagumi sangat membuatku terharu, temanku adalah orang yang setiap pekan di undang untuk menghibur dan menyanyikan lagu kesukaan dari ibu perempuan yang ia kagumi, karena seringnya ia bertemu dengan anak wanita dari ibu tersebut ia pun jatuh hati dan ingin memilikinya, dan nyatanya wanita yang temanku masud adalah wanita yang aku ganti dengan nama samaran ketika aku bercerita pada temanku.

Tapi aku tetap pada pendirianku untuk mengutarakan isi hatiku pada wanita pujaanku itu, mulailah aku susun sebuah acara istimewa untuk wanita yang ingin aku jadikan kekasih tersebut, aku juga menjadikan temanku untuk mengisi acaraku sebagai pembawa lagu, dan pada malam yang telah aku rencanakan, aku undang wanita itu dan temanku.

“Sahabat adalah orang yang pernah bersamaku dalam suka maupun duka, acara ini aku persembahkan untuk sahabatku yang malam ini akan menyampaikan perasaannya kepada sahabatku juga” aku membawakan acara tersebut.

Temanku sangat bahagia karena cintanya diterima oleh pujaan hati yang selama ini ia selalu ucap lirih dalam setiap doanya, tentang aku kebahgiaanku tak harus memiliki salah satu di antara mereka kalau bisa keduanya aku akan sangat bahagia. 
(Kisah sebelumnya: Kamu alasan aku yang paling aku terima)

[Cianjur, 08 Juni 2008]

Terima Kasih Telah Memberi Kenangan Ketika Hujan Turun


Aku tahu bulan-bulan ini hujan sering membasahi bumi menutup mentari yang biasanya tersenyum indah dengan binar hangatnya, bulan-bulan penuh tetesan hujan untuk menghidupkan gairah tanah agar senantiasa berguna untuk insan yang sedang berusaha mencari rezeki halalnya, pematang sawah yang mulai basah, embun pagi yang mulai membuat pola cermin seolah menandakan akan ada sebuah kisah baru di musim ini.

Waktu memang sulit kita buat sebuah drama yang bisa kita jadikan irama yang selaras dengan nada-nada merdu yang tercipta dalam sebuah karya, hujan masih tetap saja mengguyur kota hingga aku terjebak dalam sebuah ruang hampa tanpa tawa dan canda bahagia, hingga sebuah sorot mata penuh makna menatap tepat dihadapanku hingga terpana.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Perlahan kita mulai bercengkrama membahas hujan yang sebenarnya sudah biasa, aku menjawab karena dia bertanya, aku tertawa karena dia mulai membuatku bahagia, sorot matnya tak membuatku ragu kalau dia bukan seorang pendusta, hingga waktu mulai habis dan minuman yang aku pesan pun tak lagi ada.

Aku selalu rindu dia, berharap akan datang lagi untuk yang kedua dengan momentum pas saat hujan mulai menjelma, aku tengok dengan penuh ragu berharap dia memberiku gugup dalam kata, tak satupun harapanku yang nyata hingga hujan benar-benar reda, aku cuma bisa mengucap terima kasih untuk saat antara kita berdua yang ditemani hujan.

[Ngopi Doeloe, 13 Februari 2014]

Karena Hati Yang Terluka Kupilih Sendiri Untuk Saat Ini

Kamu itu bagai air bukan badai yang mengalir walau lamban namun seperti alunan gemericik sungai yang menentramkan, bukan saja aku yang kau buat terpana namun semua kau sihir bagaikan tak ada lagi yang harus dipuja, mungkin sempurna aku tak bisa menyebutmu seperti itu karena tetap saja Tuhan Masasempurna.

Kamu adalah alasanku untuk tetap bahagia walau kadang mentari pagi tak seindah biasanya, menyapa hangat disetiap bayangku dengan hanya senyumu yang manis, menatap dalam padaku mengukir lukisan indah yang kelak akan kita ceritakan bersama berdua menghabiskan waktu di senja dan pagi buta.

Kamu tahu bagaimana rasanya teriris luka yang tak nyata, kamu sungguh tega meninggalkanku kala aku sedang jatuh cinta padamu, berharap ukiran kisah kita selama ini menjadi prasasti nyata yang akan kita jadikan momen terindah, itu semua sirna karena kamu telah menghancurkannya. (Read: Pemuja rahasiamu berharap kau tahu)

Kenapa baru saat ini kamu jujur bahwa disana ada seorang yang telah kamu pendam dalam untuk menemanimu, salahku juga kenapa selama ini aku memujamu berlebih berharap dengan tak ada harapan selain kamu, hatiku terluka karena sikapmu yang tak pernah aku sangka, aku pilih sendiri untuk saat ini hingga tiba saatnya ada yang mampu mengobati luka-luka ini.

[Sarijadi, 14 April 2011]

Pemuja Rahasiamu Berharap Kamu Tahu Perasaan Ini

Tuhan telah menciptakan sebuah rasa yang kadang cuma kamu yang tersiksa dengan perasaan itu, seolah hidup ini terpenjara dalam relung batin yang terus berontak memerintahkan tuan raganya untuk mengucap sesuatu pada insan yang kamu selalu puja di setiap melintas bayangnya.

Kita bagaikan sepasang telinga yang berdekatan namun terasa jauh karena sebuah sangkaan, kita bagaikan kedua mata yang egois tak mau menengok kebelakang dan hanya ingin memandang kedepan, lebih jauh sehingga lupa bahwa masa depan adalah sebuah misteri yang tak satupun ada yang tahu kepastiannya.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); Aku sebagai pemuja rahasiamu, yang selalu dekat bersamamu namun tak berani mengungkap sesuatu yang aku anggap tabu, meskipun kadang hati ini menggebu ingn mengucap sesuatu namun ada ganjalan yang besar bahkan lebih besar dari sebuah bongkahan batu, aku hanya bisa memendam rasa yang begitu berat ini padamu.

Memujamu dengan rahasia bukan sebuah keasyikan bagiku, kadang aku cemburu melihatmu dekat dengan orang yang aku tahu dia bukan yang kamu mau, kadang aku sedih menatap matamu yang tak ada arti aku di setiap pandanganmu, suatu saat aku akan menjelma menjadi kesatria yang pemberani mengungkap semua yang ada dalam benakku padamu jika waktu memihak padaku.

[Jogjakarta 20 Maret 2013]

Terima Kasih Telah Menemani Langkahku Walau Sekarang Kau Bukan Miliku


Ada rasa yang pernah tumbuh dan mengihasi setiap hari pada saat itu, aku selalu rindu akan ungkapan manismu yang memintaku untuk tetap berada di sampingmu, setiap waktu aku menjagamu walaupun hanya dalam bentuk doa yang mengalun begitu syahdu bahkan disaat aku pilu karena rindu.

Setiap waktu aku sering bertanya apakah selama ini aku berbuat untuk orang yang nantinya akan menyatu denganku dalam ikatan penuh restu, meskipun aku sangat percaya padamu, namun ada sebuah rasa yang sebenarnya aku tak paham, aku bukan yang lebih pantas untuk bersanding denganmu kelak nanti, tapi ya sudahlah waktu akan terus berlalu, tugasku hanya untuk membahagiakanmu.

Hingga suatu hari yang sangat cerah, hari dimana aku seperti biasa memuji kebesaranmu dan di hari itu aku juga sering membuat orang-orang mengerti sedikit tentang ilmu. aku sangat tersentak bagai petir yang menyambar di siang bagai terik yang menusuk di saat hujan sedang membasahi.

Aku bahagia kamu bersanding dengan dia yang kau anggap lebih pantas dariku, kisah kita takkan pernah bisa dihapus, kita pernah melangkah bersama membuat sebuah mimpi seolah nyata akan membuat kita hidup bersama di masa depan, tapi ternyata takdir Tuhan telah mengajari kita ada rahasia yang kita hanya bisa percayai saja, semoga kau selalu bahagia.

[Buah Batu, 20 Desember 2015]