Virtual Reality [Cerita Munib Eps. 002]

Suatu hari, teman lama Munib yang kurang lebih 4 tahun di Jakarta berkunjung ke rumahnya-terletak disamping pesawahan, teman kecil sepermainan Munib namanya Stepén.

Stepén anak dari bapaknya yang asal Jakarta dan Ibunya asli satu kampung dengan Munib, Step kecil tinggal di kampung, rumah Step dan Munib hanya dibatasi bebrapa petak sawah karenanya dari kecil Step dan Munib sering main bersama, lulus SMP Step pindah ke Jakarta. Continue reading

Advertisements

[CerPen] Ngaji Sarung Terbalik

Kata ngaji biasanya identik dengan dunia kepesantrenan, kalau di dunia kampus dikenal dengan kuliah, dan di dunia sekolah dikenal dengan belajar, padahal intinya sama-sama saja kegiatan mencari ilmu baik yang secara “Transfer of Knowledge” ataupun yang “Transfer of Knowledge and Value”. Ngaji lebih diterima secara umum di dunia pesantren selain dari Sorogan (man by man) dan Balagan (teacher center), itulah sebagian embel-embel pesantren.

Suatu ketika di bulan Ramadhan 1430 hijriyahnya dan bulan September 2009 masehinya, saya baru pertama kali merasakan mengaji-maklum dulu saya anak manja yang jarang sekali mengaji meskipun mesjid hanya lima meter dari kediaman rumah saya, kala itu pesantren dimana saya tinggal sedang ada kegiatan ngaji musiman atau sering disebut dengan pasaran. Sungguh luar biasa waktunya yaitu dimulai dari ba’da tarawih sampai qobla sahur, ya sekitar Sembilan jaman, itu hal biasa bagi santri yang lain tapi hal yang luar biasa bagi saya, tapi tetap nikmati sebagai salah satu jalan kebahagiaan saja, toh harus bagaimana lagi, sudah jadi tradisi dunia pesantren, iya kan?

Masih tentang kegiatan ngaji pasaran yang tadi, ada dua kiai yang menjadi perantara sumber ilmu atau guru, ada Kiai Sepuh dan Kiai Anom yang kedua-duanya sungguh luar biasa mendedikasihkan ilmu dan hikmahnya bagi saya dan santri-santri yang lainnya, saat itu pengajian dimulai dengan pembacaan ishal kemudian dilanjut dengan tadarus satu juz bersamaan dan yang memimpinnya adalah santri yang sudah sejak dulu tinggal di kobong-nama kamar di pesantren-nya, setelah acara tadarus istirahat sejenak menunggu Kiai Anom datang tentunya sambil jajan-jajan.
Malam itu kitab yang diaji ialah Akhlakul Banin jilid ke empat yang warna sampulnya coklat dan tebalnya melebihi jilid-jilid Akhlakul Banin sebelumnya, dari nama kitabnya saja sudah tergambar bahwa kitab itu akan membahas tentang akhlak-akhlak bagi anak laki-laki, dan memang itu yang terjadi.

Kebetulan juga pas malam tersebut materi yang diaji berkenaan dengan macam-macam penyakit hati yang sering ada pada manusia, mulai dari penyakit Syirik-menyekutukan Allah, Nifak-lain di mulut lain di hati, Hasud, Dendam, Sum’ah-ingin di dengar orang lain, juga termasuk Riya-ingin dipuji dan dilihat orang.

Di pertengahan hari pada bulan Ramadhan itu, adzan tanda waktu dzuhur berkumandang begitu merdu, syahdu, dengan bertema lagu bangsa urdu yang membuat setiap orang tertipu dan menjadi rindu akan kumandang adzan yang dilantunkan oleh saudara saya yang bernama Randu-teman sekobong saya.

Saya yang pada waktu itu baru terbangun dari tidur nyenyak saya, maklum kalau di pesantren saya ada yang dinamakan Continue reading

Sunset di Tanah Empal Gentong

Selamat siang semua, saat ini langit Parongpong Lembang lumayan cerah untuk sebuah acara jalan-jalan, oia saya kebetulan sedang berkunjung ke Parongpong berjumpa para sahabat untuk sekedar silaturahmi dan ya ngobrol ngaler ngidul lah, rencananya besok hari senin mau berangkat ke Cirebon untuk menghadiri resepsi pernikahan Rifsa dan Akhsanti, Rifsa adalah sahabat kuliah saya, kostannya sangat sering saya kunjungi dulu pas lagi kuliah, ikut makan, ikut mandi, ikut maen pees, kadang mah ikut tidur juga kalau lagi terlalu capek, suatu saat saya pernah diusir dari kostannya karena mungkin terlalu sering berkunjung dan menghabiskan stok makanannya. hehe
Malam Senin sekitar jam 19.45 saya, Asep dan Faisal berangkat dari Parongpong menuju Subang karena mau menjemput Yusup yang katanya mau ikut juga ke Cirebon, tiba di daerah Warung Asem langsung saja kita ajak Yusup segera masuk mobil dan meneruskan kembali perjalanan ke Cirebon, melewati tol Cipali dan keluar di Plumbon kami menuju langsung ke rumah Agus yang sudah hampir 3 tahun tinggal di Cirebon, aslinya Agus dari Subang akan tetapi karena tugas kerja Agus terpaksa tinggal di Cirebon.
Tiba di Agus pukul 03.00 hari senin, istirahat sebentar dan besoknya kita bersiap menuju Losari untuk menghadiri Walimahan Rifsa, nahasnya pagi-pagi saat kami asyik bercengkrama, Yusup memberitahukan bahwa ban mobil yang kami tunggangi mengalami kebocoran dan terpaksa harus digenti. Sarapan sudah, mandi sudah, saatnya kita pergi menuju Losari.

Ditengah perjalanan saya sadar bahwa saat itu masih pagi dan benar saja jam di handphone saya menunjukkan pukul 08.45 WIB, kita sepakat untuk putar arah dan menuju Makam Sunan Gunung Djati (Raden Syarif Hidayatullah) untuk berziarah dan napak tilas, suasana makam yang masih sepi dari peziarah memberikan kami keleluasaan untuk Continue reading

Kita Pernah Merasakan Indahnya Ngebakwan di Alun-alun

Ini tulisan pertamaku untuk mengawali cerita-cerita dalam hidupku, meskipun belum tentu banyak orang akan membacanya, life is enjoy guys, pas aku buka foto di facebook aku menemukan tiga buah foto masa SMA dulu dengan kualitas kamera yang sangat jelek, noise dimana-mana, dan pastinya blur kalau di zoom, tapi it’s oke namanya juga zaman dulu, kamera handphonenya masih vga. Haha


Di foto ini aku bersama sahabat-sahabat sejati Riyan alias iyank dan Nurjaman alias zaman, foto ini diambil pas kita lagi mau pulang, kenapa kita berfoto bersama? Karena saat kami berpisah kelas, aku dan iyank dikelas XI IPAI 1 sedang Zaman Kelas Bahasa, kita satu kelas pada kelas X yaitu X-G.

Ada kenangan yang aku bayangkan pada foto ini, aku dan teman-temanku sesama anak X-G terbiasa berjamaah sholat di Mesjid Agung Cianjur, alasannya kenapa? Karena bakwan yang ada di alun-alun Mesjid tersebut sangat enak dan yang terpenting adalah murah, cukup dengan Rp 1.500,- kami menerima porsi yang sangat puas, itu alasannya.

Tapi guys, ketika kita dipisahkan oleh jurusan yang kita ambil masing-masing, kegiatan jalan bersama kita ke Mesjid Agung jadi mulai jarang, tepatnya ketika kita naik ke kelas XII kita pun sangat jarang bahkan gak pernah jalan bareng lagi, padahal aku rindu ngobrol bareng tanpa gadget, ngebakwan bareng sampai ngabisin sambelnya si emang tukang bakwan, sampai solat berjamaah bareng dan diakhiri dengan bubar bareng.

So guys, setipa moment dalam hidup kita sangat berarti ketika kita menyadari hal tersebut sudah tidak lagi kita lakukan, aku sangat bersyukur bisa bersama kalian saat itu, ada sekitar 7-9 orang sahabat yang hang out bareng pulang sekolah saat itu, aku harap mereka mengingat kenangan ini dimanapun mereka berada. Miss You All…