Legenda Asfar dan Kitmir

Sebelumnya saya telah mengunggah foto ini di akun instagram pribadi saya (link: https://instagram.com/p/BSQCHTfh23K) dan lumayan mendapat banyak tanggapan positif dari teman-teman instagram saya, mulai dari “wah kucingnya lucu”, “lahiran anak keberapa kucingnya?”, “itu kucingnya ras Bengal, Abyssinian, atau American Shorthair?” sampai ada pertanyaan “mau dijual berapa gan kucingnya?”. Tapi bukan hal tersebut yang ingin saya sampaikan. Continue reading

Budaya Sosial Kita Kemana Ya ?

Sebelumnya saya mohon maaf baru bisa menulis lagi di blog sederhana ini, alasannya sih simpel, banyak yang harus diperhatiin dulu kemarin-kemarin mah, tapi Alhamdulillah sudah sebagian besar mendapat perhatian saya. Baiklah, kali ini saya mau sedikit membahas budaya sosial bangsa kita yang perlahan pergi entah kemana, dan entah siapa pula yang mengusir budaya santun tersebut.

Jika di antara kalian ada yang sering menggunakan alat transportasi umum atau fasilitas umum, yuk kita samakan pengalamannya, saya dari SMP sudah terbiasa dengan transportasi umum semacam Ojek maupun Angkot, kisaran tahun 2004 sampai tahun 2009 saya masih merasakan suasana

Continue reading

[CerPen] Ngaji Sarung Terbalik

Kata ngaji biasanya identik dengan dunia kepesantrenan, kalau di dunia kampus dikenal dengan kuliah, dan di dunia sekolah dikenal dengan belajar, padahal intinya sama-sama saja kegiatan mencari ilmu baik yang secara “Transfer of Knowledge” ataupun yang “Transfer of Knowledge and Value”. Ngaji lebih diterima secara umum di dunia pesantren selain dari Sorogan (man by man) dan Balagan (teacher center), itulah sebagian embel-embel pesantren.

Suatu ketika di bulan Ramadhan 1430 hijriyahnya dan bulan September 2009 masehinya, saya baru pertama kali merasakan mengaji-maklum dulu saya anak manja yang jarang sekali mengaji meskipun mesjid hanya lima meter dari kediaman rumah saya, kala itu pesantren dimana saya tinggal sedang ada kegiatan ngaji musiman atau sering disebut dengan pasaran. Sungguh luar biasa waktunya yaitu dimulai dari ba’da tarawih sampai qobla sahur, ya sekitar Sembilan jaman, itu hal biasa bagi santri yang lain tapi hal yang luar biasa bagi saya, tapi tetap nikmati sebagai salah satu jalan kebahagiaan saja, toh harus bagaimana lagi, sudah jadi tradisi dunia pesantren, iya kan?

Masih tentang kegiatan ngaji pasaran yang tadi, ada dua kiai yang menjadi perantara sumber ilmu atau guru, ada Kiai Sepuh dan Kiai Anom yang kedua-duanya sungguh luar biasa mendedikasihkan ilmu dan hikmahnya bagi saya dan santri-santri yang lainnya, saat itu pengajian dimulai dengan pembacaan ishal kemudian dilanjut dengan tadarus satu juz bersamaan dan yang memimpinnya adalah santri yang sudah sejak dulu tinggal di kobong-nama kamar di pesantren-nya, setelah acara tadarus istirahat sejenak menunggu Kiai Anom datang tentunya sambil jajan-jajan.
Malam itu kitab yang diaji ialah Akhlakul Banin jilid ke empat yang warna sampulnya coklat dan tebalnya melebihi jilid-jilid Akhlakul Banin sebelumnya, dari nama kitabnya saja sudah tergambar bahwa kitab itu akan membahas tentang akhlak-akhlak bagi anak laki-laki, dan memang itu yang terjadi.

Kebetulan juga pas malam tersebut materi yang diaji berkenaan dengan macam-macam penyakit hati yang sering ada pada manusia, mulai dari penyakit Syirik-menyekutukan Allah, Nifak-lain di mulut lain di hati, Hasud, Dendam, Sum’ah-ingin di dengar orang lain, juga termasuk Riya-ingin dipuji dan dilihat orang.

Di pertengahan hari pada bulan Ramadhan itu, adzan tanda waktu dzuhur berkumandang begitu merdu, syahdu, dengan bertema lagu bangsa urdu yang membuat setiap orang tertipu dan menjadi rindu akan kumandang adzan yang dilantunkan oleh saudara saya yang bernama Randu-teman sekobong saya.

Saya yang pada waktu itu baru terbangun dari tidur nyenyak saya, maklum kalau di pesantren saya ada yang dinamakan Continue reading