Balada Afi Bermain Api

Mohon maaf judulnya agak hiperbolis sedikit, biar banyak orang membaca tulisan tentang Afi menurut pendapat saya yang memiliki akun Facebook fb.com/fahmimunib yang setiap postingan berfaedah (hasil mengkonsep seharian bahkan samapi seminggu) hanya disukai oleh 7-30 orang, termasuk teman-teman yang saya paksa untuk menyukai postingan tersebut lewat sosial media lain (WA, Line dan Instagram), yang tidak jarang tulisan berfaedah tersebut dikomentari sebagai berikut:

Screenshot_1

Baiklah, tulisan ini sebenarnya pesanan dari teman saya yang menginginkan saya berpendapat tentang sosok yang sedang fenomenal-Afi, jujur saja saya tidak terlalu tertarik membahas orang-orang yang saling berargument tapi tidak saling menunjukan sikap ke-Indonesiaannya (ramah dan santun), mungkin karena mereka sudah lama tinggal di luar negeri atau mungkin mereka sudah menganggap dirinya paling asing di negeri sendiri.

Afi Bermain Api
Afi alias Asa Firda Inayah alias Afi Nihaya Faradisa (fb.com/afinihaya) mulai terkenal karena tulisan di aku facebooknya tentang pengalaman Dia yang mencoba tidak menggunakan smartphone dalam beberapa hari, dan selama Dia tidak berinteraksi dengan smartphone selama beberapa hari tersebut, Afi menemukan banyak hikmah yang kemudian disampaikan dalam tulisan di akun facebook miliknya, yang selang beberapa hari menjadi viral sehingga banyak disanjung orang karena tulisannya yang menginspirasi.

Kemudian, Afi mencoba menyampaikan pendapat tentang ‘Warisan’ versi Dia, yang dalam pendapat tersebut dimasukanlah Agama sebagai salah satu dari warisan, Afi menganalogikan seumpama Dia dilahirkan di Swedia atau Israel yang bapak ibunya Keristen atau Yahudi, Dia tidak menjamin hari ini sebagai seorang Muslim, karena mungkin ibu bapaknya akan mewariskan agama lain, pendapat Afi tentang Agama sebagai warisan inilah yang menjadikan Afi seolah sedang bermain api, kenapa bisa seperti itu? Karena negara kita sedang sensitif terhadap aroma Agama, tanpa harus saya jelaskan panjang karena anda pun sedang merasakan suasana ini.

Afi dan Ibrahim Kecil
Nabi Ibrahim Alaihissalam pada saat kecil sudah mulai mempertanyakan tentang Tuhan yang akan Beliau sembah, Ibrahim kecil sering bertanya pada dirinya ‘Apakah bintang, matahari, dan bulan adalah Tuhan yang harus Saya sembah?’, hingga dewasa Nabi Ibrahim bertanya lagi pada dirinya sendiri ‘Apakah Saya harus menyembah apa yang bapak Saya Sembah yaitu patung-patung?’, hingga pada akhirnya Nabi Ibrahim menemukan bahwa hanya Allah yang harus Beliau sembah (taati), inilah yang menjadi Agama Tauhid warisan dari Nabi Adam. Nabi Ibrahim memilih warisan Agama Tauhid dari Nabi Adam dan menolak warisan Agama dari Bapaknya, sehingga sampailah ajaran-ajaran Ibrahim tersebut kepada Nabi akhir zaman-Muhammad S.A.W-sebagai “Millah Ibrahim” sesuai dengan Q.S. [3]: 95.

Afi adalah sosok manusia wajar pada umumnya yang kadang ingin bertanya terhadap jalan hidup yang sedang Dia jalani, mau tidak mau Afi akan menemukan kebenaran dengan caranya sendiri.

Afi dan Barisan Anti Agama sebagai Warisan
Tidak lama dari tulisan Afi tentang ‘Warisan’ tersebut viral, muncullah orang-orang yang menyanggah tulisan Afi yang berpendapat tentang ‘Agama sebagai Warisan’, hal ini wajar karena beda kepala akan sangat berpotensi untuk beda pendapat, selama tulisan Afi disanggah dengan pendapat proporsional, yang keliru adalah ketika orang yang tidak sependapat dengan tulisan ‘Warisan’ Afi kemudian mengedepankan Nafsu ketimbang hati nurani yang berujung pada tindakan yang tidak Indonesiawi (ramah dan santun), apalagi sampai merusak mental Afi dengan berbagai cara (mencemooh, menghina bahkan sampai meneror) yang orang tersebut masih satu Negara atau satu Kewarganegaraan.

Meskipun Afi bagaikan orang dewasa yang pemikirannya jauh diatas rata-rata warga negara kita, kenyataannya dia baru merasakan indahnya Sweet Seventeen (17) dan sekarang umurnya kurang lebih 18 tahun, dalam dunia Psikologi umur tersebut digolongkan sebagai remaja akhir yang masih mencari jati diri dan rentan terhadap goncangan jiwa. Saya tegaskan untuk mereka yang sampai saat ini masih mencemooh, menghina atau meneror Afi, kalian secara tidak sadar adalah penjahat yang sedang berbuat rusak pada sesama makhluk Tuhan.

Afi dan Professor Plagiat
Sebelumnya saya ingin bertanya, umur berapa atau sejak kapan atau sejak dimana Anda mengenal istilah plagiat?

Orang-orang yang ramai mempersoalkan bahwa tulisan Afi adalah jiplakan, mereka rata-rata adalah orang-orang yang sudah atau sedang menempuh kondisi belajar dimana tugas mereka dipertenggung jawabkan terhadap gelar yang akan mereka raih atau pertahankan. Apakah hari ini Afi sudah kuliah? Atau apakah ketika Afi menulis tulisan tentang ‘Warisan’ Dia sudah kuliah atau merasakan bagaimana cara dosen mengkoreksi tulisan? Meskipun Saya percaya Afi sudah tahu tentang konsep plagiasi itu seperti apa.

Afi adalah sosok anak baru gede (ABG) yang mungkin teman seumurannya masih asik mencari angel kamera yang pas untuk foto selfi eksisnya, atau temannya yang ketika sore menjelang keluar rumah asyik nongkrong sambil menghisap rokok, Afi asyik dengan hobi nulisnya yang masih natural, dilihat dari cara menyampaikan tulisan ‘Warisan’-nya, terlihat bahwa Afi seolah sedang curhat di atas kertas tanpa menghiraukan apa yang diinginkan oleh pembaca, karena penulis sejati tidak peduli orang akan berpendapat apa tentang tulisannya.

Balik lagi, apakah Afi seorang Plagiator? Menurut saya iya, kenapa? Satu saja yang ingin saya buktikan bahwa Afi adalah seorang Plagiator, ketika Dia menuliskan kata-kata dari Jalaludin Rumi, apa yang menunjukan bahwa kata-kata tersebut adalah benar ucapan atau pendapat Jalaludin Rumi? Tidak dicantumkan sumbernya dari mana (minimal judul buku dan halaman), karena boleh jadi ucapan Jalaludin Rumi tersebut adalah kata-kata Afi atau orang lain yang di jiplakan kepada Jalaludin Rumi sehingga seolah-olah kata-kata tersebut asli ungkapan dari Jalaludin Rumi.

Akan tetapi saya akan memakluminya dan tidak akan mencap Afi sebagai plagiator seheboh orang-orang yang mensejajarkan kasus plagiasinya Afi dengan kasus plagiasinya Professor unggulan UGM dan Professor kebanggaan UNPAR yang jelas sangat beda jauh (Sumber: goo.gl/wdMHXe). Mereka-Profesor-profesor atau Rektor-rektor-yang melakukan kasus plagiasi layak mendapatkan sanksi sosial sebagai hukuman kejahatan intelektualnya, bisa dengan mencopot jabatan atau gelarnya atau bahkan keduanya, karena mereka telah berkhianat kepada bangsa yang telah membiayai mereka selama menjabat dari hasil plagiasi, akan tetapi jika seorang Afi terbukti melakukan plagiasi terhadap tulisan orang lain, jangan menghujatnya sedemikian rupa, tegurlah layaknya seorang orang kaka menegur adiknya atau tegurlah Dia layaknya orang tua menegur anaknya, jangan berikan sanksi lebay (berlebih) kepadanya, cukup dengan membimbingnya dan sampaikan dengan cara yang konstruktif (membangun) sehingga suatu hari Afi akan merasakan indahnya hidup di Indonesia yang orang-orangnya sangat Indonesiawi (ramah, santun dan gotong royong dalam kebaikan).

Penutup
Saya harap banyak Afi yang lahir atau muncul sebagi penggerak anak-anak bangsa supaya lebih giat membaca dan berpendapat yang ilmiah atau setidaknya bisa membangkitkan wawasan orang lain dari cara pandangnya.

Jangan pernah takut berbeda pendapat selama bisa dipertanggung jawabkan, meskipun taruhannya orang-orang terdekat kamu ada yang akan meninggalkanmu ketika tahu bahwa cara pandangmu sedikit berbeda dengan mereka, saya juga pernah merasakan hal tersebut dulu; dijauhi sebagian teman-teman karena cara pikir saya yang beda, sedih memang tapi apa daya, karena berharap lebih pada orang hanya akan membuatmu kecewa.

Kebenaran Hanya Milik Allah

Correct Me If I’m Wrong (CMIIW)

Advertisements

3 thoughts on “Balada Afi Bermain Api

  1. Kamu bijak teman. Saya sangat menyukai tulisan ini setelah berkali-kali membaca tulisan lain di sana-sini yang semua kesimpulannya adalah nyinyir. Berulang kali berpikir orang-orang ini terlalu lebay dan hendak menegurnya, sudah kutuliskan komentar tinggal klik send, tapi tak sampai hati saya menegur mereka. Dan saya batalkan. Karena saya kemudian sampai pada pemahaman bahwa para komentator ini adalah type reaktif, mereka hanya bereaksi terhadap sesuatu. Hanya pandai mengomentari orang lain.

    Like

    1. Wah terima kasih banyak teman sudah menyempatkan membaca tulisan saya, tulisan ini saya buat karena saya kurang begitu suka berpendapat tanpa uraian, jadi ini adalah luapan saya kepada mereka yang kurang baik menyikapi kemajuan seseorang dalam menuangkan gagasannya, meskipun kita silang pendapat, tetaplah bijaksana dalam menyikapi, harusnya orang-orang yang reaktif seperti itu dalam bersikap. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s