Semangat Gulali Kakek Tua

Saya punya cerita kenangan sewaktu SMA yang sampai saat ini masih teringat, tenang ini bukan cerita cinta sok romantis seperti yang ada di youtube atau instagram, semoga ada sedikit hikmah untuk teman-teman yang menyempatkan membacanya.

Sewaktu saya duduk di bangku SMA, saya sangat sering terlambat masuk sekolah, maklum jarak yang harus ditempuh dari rumah sampai sekolah (rumah saya di pedesaan, sekolah di pusat kota) membutuhkan satu kali naik ojek dan dua kali naik angkutan umum belum lagi harus berjalan kaki menyusuri gang pinggir toko supaya cepat tiba di sekolah, kalau tidak mau jalan kaki harus nambah biaya buat naik delman, becak, atau ojek supaya sampai di depan gerbang sekolah, tapi kan sayang uangnya, lebih baik sedikit olah raga jalan kaki dan uangnya ditabung.

Suatu hari, seperti biasa saya terlambat dan pintu gerbang sekolah sudah ditutup kurang lebih 7 menit sebelum saya tiba, saking frustasinya saya memilih untuk tidak masuk sekolah dan berniat pulang kembali ke rumah.

Saat perjalanan pulang saya tiba-tiba tertarik untuk membeli gulali depan gang, pedagangnya seorang kakek-kakek yang nampak renta, sambil menunggu gulalinya jadi, dialogpun tercipta.

“A mau kemana?” tanya kakek.

“Mau pulang ah Ki pintu sekolahnya sudah keburu ditutup, saya malas dihukum satpam” ungkap saya.

“Udah, besok mah tidak usah sekolah lagi, percuma” pesan kakek tersebut yang sedikit mengusik saya.

“Kok gitu Ki? Kenapa gak boleh sekolah Ki?” tanya emosi saya.

“Tuh lihat mereka yang setiap hari sabtu suka tawuran di jalan baru, mereka sama seperti kamu, anak sekolah, tapi mentalnya sampah hanya mengotori nama baik pendidikan, mereka kira dengan tawuran akan dianggap gagah, mereka hanya jongos-jongos Setan, tidak kasihan sama orang tua yang capek membiayai mereka” ungkap kakek dengan wajah serius.

“Lihat juga mereka para koruptor, apakah ijazah mereka ijazah taman kanak-kanak? jelas bukan, mereka itu sekolahnya tinggi-tinggi bahkan sampai ke luar negeri, fasih pula bahasa asing, tapi mental mereka kere, mereka rela menjadi babu-babu Setan, tidakkah mereka kasihan keluarganya di besarkan dari uang haram” lanjut kakek.

“Lantas sekarang saya harus bagaimana Ki?” tanya saya yang saat itu merasa sangat malu.

“Tanyakan saja pada dirimu sendiri, mental apa yang akan kamu tumbuhkan, apakah kamu akan menumbuhkan mental pecundang hanya karena pintu sekolah sudah ditutup lalu malas untuk dihukum, atau kedua mental jijik tadi?” tanya kakek.
Baru kali ini saya beli sesuatu (gulali) tapi penjual tersebut ngomelnya dalem banget.

“Ini gulalinya, jangan lupa makannya berdoa dulu” ucap kakek.

“Siap Ki, saya gak jadi pulang, mau kembali ke sekolah saja, lebih baik terlambat daripada menanam kebodohan kelak karena mental pecundang” ucap saya.

“Setan itu pintar, menyimpan kebanggan dalam kehinaan, mereka para anak sekolah yang tawuran, anak sekolah yang suka curat-coret di sembarang tembok, anak sekolahan yang bahasanya kasar, dan anak sekolahan yang khianat pada orang tuanya, telah terpedaya oleh kepintaran Setan, perbanyak ingat pada Allah nak” ucap lirih kakek.

“Siaap Ki, baydewey terima kasih untuk gulali dan teguran manisnya di pagi ini, semoga Aki panjang umur” ucap saya.

Sambil ketawa kakek tersebut memberikan saya bonus gulali.

“Sana gera masuk sekolah, ini bonus gulali dari kakek” ucap kakek.

Dan, hukuman pun saya terima seperti biasa, masuk kelas pukul 09.15, ada rasa malu dalam diri saya, tapi inilah hidup yang kadang harus malu untuk sebuah pengalaman berharga.

Hari demi hari seolah semacam ‘reminder’ dialog antara saya dengan kakek tersebut, sangat melekat begitu kuat di pikiran saya.

Setelah hari itu, hampir satu bulan saya tidak lagi berjumpa dengan kakek penjual gulali depan gang, dapat kabar dari pedagang roti bakar yang biasanya berdampingan dengan kakek penjual gulali tersebut, kake telah berpulang (baca: meninggal dunia) sekitar seminggu yang lalu di kampung halamannya di daerah selatan Cianjur.

Allāhummagfir lahu warhamhu wa’āfihi wa’fu anhu.

Advertisements

2 thoughts on “Semangat Gulali Kakek Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s