Kacang Rebus [Cerita Munib Eps. 006]

Suasana kelas sudah mulai memanas, adu serang argumen tajam mulai bisa dirasakan, pemakalah banyak dihujani pertanyaan oleh audiens yang penasaran tentang materi poligami, materi seminar yang sudah diprediksi akan menghangatkan kelas ditengah cuaca Bandung yang sedang mendung.

“Saya menemukan banyak fakta bahwa adil yang menjadi acuan orang-orang yang ingin berpoligami itu hanya bertumpu pada sisi materi dan cenderung mengenyampingkan sisi psikologis dari istri maupun anak yang ingin ditinggal nikah lagi oleh suaminya, bagaimana pendapat pemateri untuk meluruskan hal tersebut dan dengan cara seperti apa?” pertanyaan Wiguna yang lumayan berbobot.

“Apakah menjadi boleh dan etis atau tidak menurut pemateri jika seorang suami yang ingin berpoligami dengan perempuan yang masih gadis dalam artian bukan janda, padahal dia punyak anak laki-laki yang sudah waktunya untuk dinikahkan” tanya Afrian pada pemateri.

“Terima kasih atas pertanyaan-pertanyaannya, silakan pemateri menjawab pertanyaan tersebut dengan masing-masing durasi waktu 10 menit, dimulai dari sekarang” tegas Munib yang menjadi moderator diskusi.

Hari itu kegitan perkuliahan terakhir di minggu pertama bulan Juli ditutup dengan seminar panas bertema ‘Poligami dan Pesan Adil’ yang menjadi bagian dari rangkaian mata kuliah Seminar Agama Islam.

Acaranya lumayan menguras emosi baik pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan, kebanyakan perempuan menyiratkan ketidak inginan untuk dipoligami walaupun Al-Qur`an secara jelas memberikan kesempatan. Lain halnya dengan pihak laki-laki yang cenderung mencari akal supaya poligami tersebut terkesan mudah dan sama hal seperti perintah agama pada umumnya.

Perbincangan berlangsung hingga di parkiran tempat nongkrong anak-anak kampus, beberapa teman Munib masih mencoba membuka dialog-dialog kecil seputar poligami.

“Jika Al-Qur’an membolehkan kita untuk menikah lebih dari satu, kenapa banyak orang memperdebatkannya? itu kan sudah jelas” ungkap Mulyana.

“Yang menjadi perdebatan itu syarat poligaminya Mul, kayak gini contohnya, kamu boleh makan, asalkan syaratnya harus halal dan juga baik” jawab Sandi.

“Faktanya, yang banyak poligami itu ahli agama yang lumayan cukup harta” Asep yang ikut berdialog.

“Terus, isteri kedua dan ketiganya lebih muda dari isteri pertama ya Sep biasanya” tambah Afrian.

“Tah eta bener pisan Yan” sahut Asep.

“Yasudahlah, sampai kapan pun juga gak bakalan ada ujungnya ngebahas poligami mah, yang penting nikah aja dulu sekarang mah, kalian sok-sok an bahas poligami, pacar juga belum pada punya, dasar jomblo-jomblo” tiba-tiba suara Gita yang kebetulan lewat parkiran.

“Atuh jangan keras-keras ngatain kita jomblonya Git, malu sama banyak orang” Tisnawan ikut juga berdialog.

“Wahh petir sudah mulai bermunculan nih, yu ah pulang brader” ajak Afrian.

“Yan nebeng ke bawah ya ke kostan si Fikris” pinta Munib.

“Hayu Nib !” sahut Afrian.

Ditutup dengan saling bersalaman khasnya anak gaul zaman sekarang, mereka membubarkan diri masing-masing, ada yang langsung menuju kostannya, ada yang ke gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) mencari koneksi internet gratisan, ada juga yang ikut kumpul bareng teman lainnya di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM); seperti UKM Pramuka, UKM Panahan, UKM Lembaga Dakwah Kampus, dan lain sebagainya.

***

Karena hujan tidak bisa ditentukan secara tepat kapan turunnya, Munib dan Afrian terpaksa berteduh di emper toko yang sedang tutup di daerah pasar Gerlong, sekitar 50 meter sebelum kostan Fikris.

Bukan hanya Afrian dan Munib yang ikut berteduh di emper toko tersebut, ada orang-orang lain juga yang ikut berteduh, ada yang memakai seragam sekolah, ada yang berseragam dinas kantor pemerintahan, sampai abang-abang pedagang asongan, hujan secara tidak sengaja mempersatukan mereka di bawah tenda emper toko bangunan.

“Mang eta suuk sanes ?” sepertinya hujan mendorong Afrian tertarik pada kacang kulit rebus.

Muhun A, mau coba?” balas Mamang tukang kacang rebus.

“Ia mang, beli lima rebueun ya” Afrian sambil mengeluarkan uang dari sakunya.

“Ini kacang rebusnya A” Mamang yang memberikan sekeresek kacang rebus.

“Mang boleh minta kresek lagi buat kulit cangkangnya, supaya tidak dibuang sembarangan” pinta Afrian pada si Mamang.

“Oh boleh A, ini kreseknya” Mamang tukang kacang rebus memberikan kresek warna putih.

Memang cocok, hujan rintik-rintik ditambah udara yang cukup dingin menambah kenikmatan menyantap kacang rebus yang kebetulan ada saat Munib dan Afrian berteduh.

8926
Hanya ilustrasi

Satu persatu kulit kacang rebus tersebut dikupas, sesekali sambil bercanda gurau menikmati nikmatnya kacang rebus dadakan, memang bahagia itu banyak definisinya, mungkin salah satunya seperti yang sedang dirasakan dua sahabat yang sedang berteduh tersebut.

“Sudah lama jualan kacang rebus Mang?” tanya Afrian.

“Lumayan A, semenjak mamang lulus SMK, mamang udah mulai dagang kacang rebus, dulu mah ikut-ikut bapak, pas bapak sudah tidak sanggup jualan, mamang yang nerusin” curhatan Mamang pedagang kacang rebus.

“Wah udah lumayan lama juga atuh ya mang?” Munib menyela.

“Ia A, alhamdulillah hasil mamang jualan kacang rebus mamang bisa beli kios di pasar dan juga bisa nyekolahin anak-anak mamang” lanjut cerita Mamang pedagang kacang rebus.

“Yang jaga kios di pasar siapa mang?” tanya Afrian.

“Ada isteri mamang yang jaga kios di pasar mah, mamang mah jualan kacang rebus keliling saja A” jawab Mamang pedagang kacang rebus.

“Wah Mamang memang tidak seperti kacang lupa kulitnya ya, meskipun sudah punya kios tapi tetap memilih berjualan keliling kacang rebus, hebat pokonya” kekaguman Munib pada Mamang.

“Aduh A mohon maaf sebelumnya, Mamang kurang setuju dengan pribahasa tersebut, mohon maaf sekali ya A” sontak ucapan Mamang membuat Munib kaget.

“Memangnya kenapa gitu Mang?” Munib penasaran.

“Begini A, ini menurut pendapat mamang tapi ya, kacang itu tidak melupakan kulitnya begitu saja seperti sebagian pejabat yang lupa rakyatnya, kulit menjaga kacang sampai bisa dipanen, dan ketika sudah tiba saatnya kulit berbahagia karena kacang yang selama ini dia jaga bisa membuat banyak orang bahagia dengan dijadikannya cemilan atau bahan tambahan dari bumbu masakan, kulit dan kacang merupakan kesatuan anugerah Tuhan yang saling melengkapi dan memiliki tujuan yang sama yaitu membuat orangorang bahagia” penjelasan Mamang.

“Kulit dan kacang tidak saling merasa kecewa karena mereka menyadari takdir yang telah ditetapkan untuk mereka berbeda, hanya saja kepala manusia memandang lain, begitu A menurut Mamang mah, maaf bukannya nyeramahin ya A, anggap saja si Cepot yang lagi show” Mamang sambil tersenyum tipis.

“Waduh si Mamang penjelasannya membuat saya terkagum-kagum, ini ilmu sangat istimewa, saya baru mendapat ilmu seperti ini Mang, hatur nuhun udah ngasih ilmu berharganya mang” ucap Munib masih penuh kekaguman.

“Ah si Aa bisa aja, mamang juga dapat penjelasan seperti itu dari isteri mamang yang kedua A” ungkap Mamang.

Ibarat petir di gurun Sahara, Mamang penjual kacang rebus melontarkan ucapan yang cukup mengagetkan.

“Isteri kedua?” Afrian dan Munib sama-sama kget dan sontak bertanya.

“Ia A, biasa aja jangan kaget begitu atuh” ucap Mamang.

“Sok mang cerita lagi ah, kenapa bisa punya isteri dua?” Afrian yang kini bersemangat.

“Kalau diceritain mah panjang A, singkat ceritanya isteri mamang yang kedua ini adalah seorang Guru SMP, beliau sudah menjanda dua tahun lebih karena ditinggal suaminya yang lebih dulu menghadap Allah, beliau sering beli kacang rebus dari mamang dan cukup akrab, hingga suatu hari mamang merasa kasihan dan curhat sama isteri mamang yang pertama, curhatan Mamang tersebut direspon baik oleh isteri Mamang” dengan lancar Mamang bercerita.

“Suatu hari Mamang dibuat kaget oleh isteri mamang yang pertama, beliau menganjurkan Mamang supaya menikahi Ibu Guru SMP tersebut, alasannya kasihan karena anak-anak Ibu Guru tersebut masih dalam usia-usia harus dibimbing pendidikannya, dan sekitar 4 tahun yang lalu Mamang menikahi beliau Ibu Guru SMP tersebut, begitu ceritanya A” lanjut cerita Mamang.

“Subhanallah, istri Mamang calon ahli Surga dua-duanya Insya Alloh” doa Munib.

“Amiin A mudah-mudahan” ucap Mamang

“Cara Mamang supaya bisa adil kepada isteri pertama dan kedua bagaimana?” sepertinya Afrian masih penasaran.

“Jujur saja mamang kurang begitu paham tentang agama, pas mamang mau menikahi isteri kedua juga mamang sempat ragu apakah mamang bisa adil atau tidak” Mamang kembali bercerita.

“Lagi-lagi isteri Mamang yang pertama meyakinkan mamang bahwa manusia tidak akan pernah bisa adil, tapi manusia akan selalu berusaha bertanggung jawab atas keputusannya, selama untuk kebaikan dan ikhtiyar menjemput ridho Alloh, kenapa harus ragu, itu petuah isteri mamang yang pertama” cerita Mamang.

“Keluarga Mamang memang keren, kapan-kapan boleh kan main ke rumah Mamang, sekalian silaturahmi sama keluarga Mamang” tanya Afrian.

“Silakan A, kita masak liwet sambil cerita-cerita lagi” balas Mamang.

“Pokonya Mamang sudah berbagi ilmu yang sangat berharga hari ini, saya sangat bahagia” ucap Munib.

“Ah si Aa bisa saja” tukas Mamang.

Tidak terasa memang kalau sudah ngobrol, langit yang awalnya mendung agak kegelap-gelapan kini sudah nampak cerah kembali, tidak terasa juga hujan telah memberikan curahan ilmu mulai dari kacang kulit sampai poligami melalui Mamang pedagang kacang rebus yang luar biasa keren.

“Mang sanes kirang sono, di bumi sudah ada yang nunggu, hatur nuhun sekali lagi telah berbagi pengalaman sama kami, semoga suatu hari bisa berjumpa dan berbagi cerita lagi” ucap pamit Afrian.

“Oh muhun A sami-sami, sok sing selamat sampai tujuan, dilancarkan segala cita-citanya, jangan lupa nikah” Mamang sambil terkekeh-kekeh.
“Siaaap Mang, assalamualaikum” ucap salam Afrian dan Munib.

***

Tuhan menaburkan ilmu di muka bumi ini sangat banyak dan melimpah, sama halnya seperti sumber daya alam, inilah kenapa manusia diperintah Tuhan untuk menyebar di bumi ini, karena manusia akan menemukan banyak hal baru dari setiap langkah perjalanannya.

Bandung 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s