Masigit [Cerita Munib Eps. 005]

Munib dan Abdilah adalah teman sekampus dan juga teman satu pesantren di Bandung, ada cita-cita mereka yang cukup luar biasa untuk dijadikan sebuah kenyataan, mereka memiliki keinginan sama untuk mengunjungi seribu Mesjid yang tersebar di Indonesia mulai dari ujung Sabang sampai ujung Merauke.

Keinginan mereka bukan sekedar isapan jempol belaka, satu demi satu mesjid dikunjungi mereka, mulai dari mesjid lingkungan tempat tinggal mereka, mesjid kampus dan sekitarnya, mereka berdua biasanya mengunjungi mesjid untuk Shalat Dhuha atau Shalat wajib berjamaah.

Banyak pengalaman yang mereka temui saat menjalankan misi ini, seperti menemui mesjid yang sepi dari orang-orang; hanya ada satu orang tua di mesjid tersebut saat waktu berjamaah tiba padahal letaknya diperkotaan yang notabene banyak orang-orang.

‘Pak punten biasanya kalau waktu berjamaah seperti waktu ashar saat ini jarang ada yang ikut berjamaah ya?’ Tanya Abdilah pada pak tua yang hendak pulang di luar mesjid tersebut setelah selesai berjamaah.

‘Dulu mah banyak yang berjamaah di Masigit ini teh Jang, tapi mungkin karena capek setelah bekerja seharian jadi shalat Asharnya pada di rumah masing-masing tidak ikut berjamaah’ Jawab pak tua yang Munib dan Abdilah temui di mesjid.

Perjalanan mengunjungi mesjid demi mesjid masih tetap berlangsung, Abdilah sangat rajin menuliskan satu per satu nama dan alamat mesjid yang pernah mereka singgahi.

‘Dil minggu depan kita kan ada ujian akhir semester, sebaiknya misi perjalanan ke seribu mesjid kita hentikan dulu sementara, kita fokus hadapi ujian dulu, gimana?’ Ajakan Munib kepada Abdilah.

‘Ia ya Nib, padahal baru beberapa mesjid yang kita kunjungi, masih seru nih tapi gak apalah, fokus ujian saja dulu, nanti bulan depan kita lanjut lagi perjalana ke seribu mesjidnya setelah UAS’ Abdilah yang mengamini ajakan Munib.

‘Tapi Dil mumpung masih masa-masa tenang kampus, bagaimana kalau kita kunjungi satu mesjid dulu, sekitaran wilayah Lembang biar sekalian refreshing mau ujian, bagaimana Dil?’ Ajakan kembali Munib.

‘Boleh juga idenya Nib, besok Rabu kita berjamaah Ashar di salah satu mesjid sekitaran wilayah Lembang ya’ Nampak semangat Abdilah merespon ajakan Munib.

***

Tiba saatnya hari Rabu, sesuai dengan rencana mereka, berangkat dari tempat tinggalnya masingmasing dan bertemu di gerbang utama kampus tempat kuliah mereka.

‘Dil kita kemana nih rencananya?’ Tanya Munib.

‘Kata teman saya orang Lembang, ada mesjid lumayan bagus pemandangannya, letaknya di daerah pasar, nama jalannya Kayu Ambon, yuk kesana Nib’ Ajak Abdilah.

‘Kemon Dil jangan sampai dilewatkan mesjid keren seperti itu mah, kamu duluan yang tahu tempat, saya ngikut dibelakang’ Munib tidak sabar untuk mengunjungi mesjid tersebut.

Setelah menempuh kurang lebih 10 km perjalanan dan bertanya ke beberapa orang akhirnya mereka pun menemukan mesjid yang dituju, dan benar juga ternyata mesjidnya keren.

‘Wah pas banget ya Nib, pas nyampe meajid pas adzan Ashar berkumandang’ Ungkap Abdilah yang baru sampai di mesjid.

‘Ia Dil pas banget, yuk ah ambil wudhu dan berjamaah dulu Dil’ ajak Munib.

Meskipun mesjid tersebut agak sedikit kedalam dari pusat keramaian Lembang, tapi antusias masyarakat untuk melaksanakan shalat berjamaah ashar lumayan banyak.

Menyamakan irama gerakan shalat yang dipimpin oleh sang Imam adalah ciri khas berjamaah, melantunkan doa-doa dengan khusus dan diakhiri dengan berjabat tangan menandakan acara berjamaah Sholat Ashar telah usai.

Indahnya kebersamaan akan terasa jika makna berjamaah senantiasa tertanam dalam jiwa setiap insan, bukan tanpa hikmah fasilitas sosial yang telah Tuhan jadwalkan untuk pemeluk Islām (shalat) ini, setidaknya menegur sapa akan terjadi pada setiap acara berjamaah dan hal itu akan melembutkan hati setiap manusia.

‘Bagaimama Nib bagus kan mesjidnya?’ Tanya Abdilah.

‘Ini mah bukan bagus lagi Dil, amazing pokonya’ Tutur Munib.

‘Assalamualaikum, kalian pasti bukan asli orang sini kan?’ Tiba-tiba ada orang tua menghampiri mereka.

‘Waalaikum salam ia betul pak, kami dari bawah tepatnya dari Gerlong bertujuan untuk ke Lembang dan menyempatkan dulu shalat ashar berjamaah di mesjid ini’ Abdilah yang coba memaparkan kedatangan mereka ke Lembang.

‘Ciri-ciri orang beriman itu hatinya selalu ada di mesjid dan orang-orang yang bertakwa selalu memakmurkan mesjid dengan sering berjamaah dan menimba banyak ilmu di mesjid, begitulah firman Allāh dan sabda Nabi SAW, semoga kalian termasuk kepada orang-orang tersebut, silakan lanjutkan obrolan dan perjalanannya bapak izin pamit’ Petuah berharga untuk Munib dan Abdilah dari orang tua yang juga ikut berjamaah.

Seolah terpesona, mereka membiarkan orang tua tersebut meninggalkan mereka tanpa mengenal siapa beliau.

Abdilah sangat sekali ingin mengenal beliau, tapi apa daya sudah tidak ada tanda keberadaan orang tersebut, sangat cepat sekali beliau meninggalkan mereka.

‘Saya penasaran sama orang tadi Nib, cari tahu yuk?’ Abdilah yang masih penasaran.

‘Kita tanyakan saja pada tukang warung atau pedagang mie ayam depan mesjid, barangkali ada yang tahu Dil’ saran Munib
‘Ayo Nib, sekalian kita jajan’ Abdilah tergesa-gesa.

Karena Munib yang tampak lapar, mereka memilih jajan mie ayam depan mesjid.

‘Mang, mie ayamnya dua, yang satu gak pake pecin’ pesan Abdilah.

‘Siap a, sok mangga ditunggu’ balas Abang tukang mie ayam.

‘Mang barangkali tahu bapak-bapak yang pake baju silat dan peci warna coklat yang tadi berjamaah di mesjid ini?’ Tanya Munib.

‘Oh yang agak kecil ada tahilalat di pipi kanannya bukan A?’ Abang tukang mie ayam memperjelas pertanyaan mereka.

‘Ia mang persis seperti itu’ sahut Abdilah.

‘Dia memang sering mampir kesini untuk sholat berjamaah sebelum pulang ke rumahnya di daerah pasar, kalau tidak salah kampungnya Jaya Giri, tapi namanya mamang tidak tahu’ penjelasan dari tukang mie ayam yang sambil mempersiapkan pesanan mereka.

‘Memang beliau kerja di daerah sini ya mang?’ Tanya kembali Abdilah.

‘Bukan, kalau mamang tidak salah dia bekerja sebagai pemulung di pasar tapi suka mampir kesini, biasa nyari-nyari barang bekas tambahan mungkin’ paparan tambahan abang tukang mie ayam.

‘Oh gitu ya mang’ ucap Abdilah.

‘Ia A, ini mie ayamnya sudah jadi, ini yang pake pecin ini yang enggak, silakan dicicipi, kalau kurang kecap atau saus silakan tambah saja a’ ucap abang tukang mie ayam sambil menghidangkan.

***

Setelah acara santap mie ayam dan istirahat di mesjidnya selesai, mereka bergegas untuk pulang dan mengakhiri petualang hari tersebut.

‘Nib Jaya Giri kan daerahnya arah kita pulang, saya masih penasaran sama orang tadi, cari yuk’ Abdilah yang masih penasaran.

‘Kamu Dil kalau udah penasaran pasti aja dikejar, oke lah sekalian pulang tapi jangan sampai kemalaman ya Dil’ sahut Munib.

‘Oke Nib siaap’ tutur Abdilah.

***

Sekian lama pencarian mereka untuk menemukan orang misterius yang menjumpai mereka di mesjid tadi belum juga menemukan titik terang, nanya sana-sini seputaran Jaya Giri tidak ada yang mengenal beliau.

‘Punten pak barangkali tahu pemulung yang rumahnya di kampung ini?’ Tanya Abdilah pada salah seorang pedagang sembako di kampung Jaya Giri.

‘Wah kurang tahu A, perasaan di kampung sini tidak ada pemulung’ Jawab bapak pedagang.

Mereka mulai merasa putus asa karena pencarian masih juga belum menuai hasil, hingga tak terasa kumandang adzan maghrib menggema di seantero dunia.

‘Dil shalat maghrib dulu yuk sambil istirahat sejenak, capek nih’ ajak Munib.

‘Ia Nib ayo, kita sholat di mesjid kecil yang deket Grand Hotel Lembang aja ya’ sahut Abdilah.

‘Oke Dil’ ucap Munib.

Seperti biasa mereka menjumpai mesjid yang sepi dari keramaian sholat berjamaah, hanya ada satu imam dan satu makmum, mereka yang terlambat satu ‘rakaat’ bergegas ikut bergabung shalat berjamaah.

Dzikir yang diakhiri dengan doa dari imam terasa khusu dan penuh ketenangan, dan seperti biasa juga setelah selesai berdoa mereka yang berjamaah akan saling bersalaman.

***

Alangkah terkejutnya Munib dan Abdilah saat mengetahui bahwa yang menjadi imam dan memimpin dzikir sekaligus doa tersebut adalah orang yang selama ini mereka cari.

‘Waah ketemu lagi, bagaimana jalan-jalannya seru?’ Tanya pak tua yang selama ini dicari Munib dan Abdilah.

‘Alhamdulillah pak, ceritanya kami berduatadi mau menyusul bapak untuk berterima kasih atas wejangannya tentang mesjid kepada kami, tapi bapaknya menghilang sangat cepat’ ungkap Abdilah.

‘Menghilang bagaimana, bapak cuma keluar lewat jalan samping mesjid yang tembus ke gang kecil perumahan dekat pasar’ ucap pak tua.

‘Oh itu, ia sama-sama a, bapak senang kalau ada anak muda yang masih menyempatkan berjamaah shalat di mesjid’ lanjut pak tua.

‘Mohon maaf sebelumnya pak, tadi kami dikasih tahu sama mamang yang jualan mie ayam kalau bapak pekerjaannya sebagai pemulung, tapi pas kami tanyakan ke warga sini katanya disini tidak ada yang bekerja sebagai pemulung, jadi kami sempat bingung dan putus asa, sampai mengira bahwa mamang tukang mie ayam telah membohongi kami’ Munib yang coba menceritakan perjuangan mereka mencari pak tua.

‘Memang benar mamang tukang mie ayam, bapak ini pemulung di pasar Lembang, awalnya bapak ini punya kios di pasar, pas tahun 2013 ada kebakaran, semua barang bapak habis, kios punya bapak yang direlokasi bapak jual karena anak bapak dikampung sakit, jadi bapak tidak punya kios dan sejak saat itu kontrakan pun tidak sanggup dibayar, kemudian bapak tidur diemper pasar atau di pos kamling pasar, hingga suatu hari teman jualan bapak ada yang menawarkan mesjid tak terurus dekat rumahnya, jadilah begini’ cerita panjang pak tua.

‘Di mesjid ini setiap malam bapak habiskan dengan membaca al-quran dan beberapa buku bacaan pemberian, kalau siang bapak pergi ke pasar mengumpulkan barang bekas dan sehabis ashar bapak jual barang bekas tersebut ke pengumpul barang bekas dekat mesjid yang tadi sore kita jumpa’ lanjut cerita dari pak tua.

‘Jadi bapak tidak punya rumah? Keluarga bapak di kampung bagaimana?’ Tanya Abdilah di sela cerita panjang pak tua.

‘Pada hakikatnya semua mesjid adalah rumah bagi orang-orang muslim, ini juga sementara, bapak lagi menabung hasil kerja bapak sebagai pemulung untuk modal usaha dan mengontrak kembali, keluarga bapak di kampung sangat mendukung bapak, dengan doa dan semangat, setiap akhir bulan juga bapak menyempatkan pulang ke kampung sambil memberi uang untuk kebutuhan keluarga’ jawab panjang pak tua.

‘Subhanallāh, mulia sekali bapak, tidak sia-sia kami mencari bapak’ ucap Abdilah.

‘Sekiranya bapak memiliki wejangan atau petuah untuk kami yang sedang melakukan misi mengunjungi seribu mesjid’ pinta Munib.

‘Allāh dzat satu-satunya Mahamulia, pesan bapak lanjutkan misi kalian, bapak yakin akan banyak pelajaran sangat berharga yang akan kalian temui untuk bekal hidup kelak, jangan lupa niatkan karena Allāh’ wejangan berharga dari pak tua untuk Munib dan Abdilah.

Waktu sangat cepat berlalu, tak terasa dialog bermakna tersebut mengantarkan mereka pada waktu Isya, pak tua menyuruh salah satu di antara mereka untuk mengumandangkan adzan.

‘Allāhu Akbar Allāhu Akbar’ suara adzan Munib berkumandang.

***

Mahasuci Allāh yang telah menuntun mereka kepada cerita luar biasa penuh makna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s