divided.jpg

Nasib Orang Kampung [Cerita Munib Eps. 001]

​Suatu hari, Munib anak dari kampung Baralak bersafari ke kota Jakarta, dia menemukan banyak hal yang berbeda dari tempat asalnya di desa; gedung-gedung tinggi, rumah-rumah mewah, dan cara orang-orang berpakaian yang menurut dia aneh aneh.

Panasnya perkotaan memaksa Munib berteduh sejenak di halte bus, tak lama kemudian datang menghampiri sesosok perempuan, ‘Mas sedekahnya mas’ lirih perempuan tersebut, sontak Munib mengeluarkan uang berwarna abu-abu dan memberikannya pada perempuan tersebut sambil basa-basi ‘ini Bu alakadarnya, oia Ibu asli orang sini?’ Tanya Munib, ‘bukan mas, saya dari kampung Rokrak’ jawab si perempuan.

Tujuan Munib ke Jakarta karena dia mendapat undangan sebagai pemenang undian salah satu ‘brand’ kopi ternama-Luwak Grey Kofi (LGK).

‘Inilah pemenang undian uang senilai 5 juta dari Luwak Grey Kofi, bapak Munib’ kurang lebih seperti itu pengumuman di acara tersebut, sehabis acara usai, para pemenang berkesempatan untuk makan malam bersama CEO perusahaan LGK di salah satu restoran mewah di Jakarta.

‘Terima kasih sudah berkenan hadir di acara perusahaan saya, silakan jangan sungkan kalau ada yang ingin disampaikan’ ungkapan penuh kharismatik dari CEO LGK, ‘Nganu pak maaf mau tanya, asal bapak dari mana ya?’ Tanya Munib, ‘Saya dulu berasal dari kampung di daerah Jawa Barat, beres SMA dapat beasiswa kuliah di Jakarta, alhamdulillah dapat kerja juga di sini’ cerita si bapak CEO LGK.

‘Aku menemukan dua orang yang sangat jauh berbeda nasibnya tapi asalnya sama-sama dari kampung sepertiku, memang penuh kejutan pembelajaran hidup ini’ gumam hati Munib sambil menatap ke arah jendela kereta yang ditumpanginya untuk kembali pulang ke kampung halaman dia,  sambil membawa penuh uang berwarna merah cerah di tas kecilnya.

Bersambung ah…

3 thoughts on “Nasib Orang Kampung [Cerita Munib Eps. 001]”

  1. Pada dasarnya kota hanya terdiri dari banyak orang kampung dengan beragam nasib ya, hehe. Cuma orang-orang berubah, jadi ada beberapa yang tidak mau lagi mengakui dan ingat akan asalnya, ibarat lupa masa lalu seperti kacang lupa kulitnya. Semoga kita tidak lupa dengan apa asal kita, tapi di saat yang sama selalu menghormati aturan yang berlaku di mana pun kita berada, hehe.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s